Rabu, 16 Oktober 2019

Untuk hati yang tak menentu


          Untuk hati yang sewaktu-waktu tak menetu.

         Mekanismenya sederhana, cukup jadikan rasa sabar selalu hadir mengisi ruang dalam diri kita. Menjadi sebuah benteng yang kokoh yang harus siap setiap saat.
Bersabar, sama halnya ketika menanan sebuah benih, yang lama-kelamaan akan tumbuh dan hasilnya kita petik dan kita nikmati sendiri.

          Untuk hati yang sewaktu-waktu tak menentu.

             Mintalah pada-Nya untuk diberikan kekuatan. Kekuatan untuk bersabar. Yakinlah, jika ingin mengetahui dari mana seseorang dinilai seberapa kuat ia, tentulah dari kesabarannya. Seberapa kuat hatinya menerima segala perbuatan. Seberapa kuat hati 
untuk tetap tabah meski ada banyak hal yang mengusiknya.

         Untuk hati yang sewaktu-waktu tak menentu.

            Curakanlah segala keluh kesahmu hanya pada-Nya. Mana mungkin Dia tega dengan hamba yang selalu menangis untuk-Nya? Dengan hamba yang begitu dekat dengan-Nya? Sebab buah dari kesabaran adalah kita yang semakin dekat dengan-Nya. Karena sesungguhnya tak ada yang mengerti diri kita selain Dia.





Sabtu, 07 September 2019


Hijrah bukan karena tendensi dunia atau kepentingan dunia tetapi ikhlas karena Allah. Seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya dan sesuai dengan niat hijrahnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍْﻷَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟﻨِّﻴَّﺎﺕِ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣَﺎ ﻧَﻮَﻯ . ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻫِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ، ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻫِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﻟِﺪُﻧْﻴَﺎ ﻳُﺼِﻴْﺒُﻬَﺎ ﺃَﻭْ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻳَﻨْﻜِﺤُﻬَﺎ ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﻫَﺎﺟَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ
“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau mendapatkan wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia inginkan itu.”
Bahkan kita tetap harus meluruskan niat ketika telah hijrah agar tetap istiqamah, karena yang namanya hati sering berubah-ubah dan mudah berubah niatnya. Niat dan ikhlas adalah perkara yang berat untuk dijaga agar istiqamah dan sangat membutuhkan pertolongan Allah.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,
ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي ؛ لأنها تتقلب علي
“Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak-balik”

Jumat, 06 September 2019

Kesempatan untuk Menjadi Penghuni Surga


Harus aku akui bahwa memang benar masa laluku sangatlah buruk! Jadi, aku mohon untuk jangan pernah menilai dari masa laluku. Sebab, langkahku saat ini menurutku yang terbaik untuk menjadi pribadi pribadi yang disayangi Allah dan manusia lain.
Dulu aku memang seperti itu sejelek itu. Tapi sekarang, aku akan menjadi sosok yang lebih baik, sebaik-baiknya manusia dalam ajaran Islam.
                Sekarang aku pikir ini sudah waktunya untuk mengubur masa laluku. Aku sudah berniat hari ini untuk menguburnya dalam-dalam. Lalu menanam kabnyak benih kebaikan yang berbuah pahala di akhirat kelak.
                Namun pelajaran berharga dari masa laluku itu sepertinya tidak bisa kukubur juga, sebab dari sinilah aku dapat memetik hikmah dari peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Agar di masa yang akan datang bertambah bisa kulewati dengan bekal pelajaran itu.
                Alhamdulillah. Allah masih memberikanku kesempatan untuk bernafas hari ini
                Kesempatan untuk berhijrah ke jalan yang lebih baik lagi.
                Kesempatan untuk berhijrah menjadi manusia yang bertakwa.
                Kesempatan untuk berhijrah menjadi manusia yang berakhlak mulia dan kesempatan untuk menjadi penghuni surga-Nya.


“Dan orang-orang yang beriman
Dan berhijrah serta berjihad di
Jalan Allah, dan orang-orang yang
Memberi tempat kediaman dan
Memberi pertolongan (kepada
Orang-orang muhajirin), maka
Itulah orang-orang yang benar-benar
Beriman. Maka memperoleh
Ampunan dan rezeki yang mulia.”
(QS. Al-Anfal: 74)

Kamis, 05 September 2019

Cara menyapa balik ALLAH


            Adakalanya kita tidak harus melamunkan sosok kekasih idaman yang belum tentu ia juga memikirkan kita.
            Adakalanya kita tidak harus terlalu giat memperjuangkan seseorang yang hatinya belum tentu milik kita.
            Adakalanya kita tidak perlua menangis karena sosok yang dibangga-banggakan hati itu ternyata lebih memilih orang lain daripada kita.
            Tetapi justru adakalanya kita harus merenungkan segala nikmat yang tak terhingga yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
            Alhamdulillh.
            Betapa sering kita jatuh dalam perjalanan meraih sesuatu. Betapa sering kita patah hati karena seseorang. Betapa sering kita terluka dan menangisi keadaan yang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Betapa banyak...
            Namun pernakah terbesit di pikiran kita kalau itu semua adalah cara Allah untuk menyapa kita?
            Alhamdulillah, perlua disyukuri jika sampai saat ini Allah masih mengizinkan kita untuk hidup di dunia. Itu artinya Allah memberikan kita kesmpatan untuk selalu memperbaiki semuanya. Pandai-pandailah bersyukur karena nikmat yang telah Allah berikan tak tertandingi dengan apa pun dan tak ada yang sebanding dengan nikmat itu. Namun pernakah terbesit di pikiran kita kalau itu semua adalah cara Allah menyapa kita?
            Mengingat Allah saja itu kita sudah harus bersyukur, apalagi hanya sekedar berkata ‘alhamdulillah’ dalam hati, atau sekedar melafazkannya dengan lisan kita. Ketahuilah, sungguh, bersyukur adalah cara menyapa bali Allah Subhanahu wa Ta’ala...!


“Dan seandainya pohon-pohon di bumi
Menjadi pena dan laut (menjadi tinta),
Ditambahkan kepadanya tujuh laut
(lagi) sesudah (kering)nya, niscaya
Tidak akan habis-habisnya (dituliskan)
Kalimat ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Luqman: 27)



“Wahai anak Adam, bahwa selama
Engkau mengingat Aku, berarti engkau
Mensyukuri Aku, dan apabila engkau
Melupakan Aku, berarti engkau telah
Melupakan Aku!”
(HR. Thabrani)

Rabu, 04 September 2019

Meyakinkanmu bahwa aku tidak lemah


            Duhai kepada-Mu sang juru kunci hati ini
            Akhirnya, aku memilih untuk menelantarkan hati inipada sebuah titik. Di mana pada titik itu, ia hanya punya dua pilihan: antara memlilih mencari atau sekedar untuk menanti.
            Aku bukannya pasrah atau menyerah pada keadaan, namu hati harus memberi keputusan, sebelum aku melangkah terlalu jau.
            Duhai pada-Mu yang Maha Membolak-balikkan hati. Sungguh berat mengambil langkah, karena hati ini masih sama seperti dulu, terlalu polos dan tak pernah belajar dari masa lalu. Dan aku masih saja selalu jatuh pada kesalahan yang sama. Aku belum paham mengenai mekanisme hati dalam bekerja. Aku tidak tauh bagaimana caranya.
            Sebabyang kutahu bahwa hijrah adalah prihal menyatukan dua pasanga kekasih, yaitu hati dan niat. Yang kelak mereka akan merenda pada sebuah kasih.
            Hanya saja mereka harus kuat, layaknya karang yang tegar berdiri meski dalam deburan ombak dan terpaan badai.
            Hati butuh tulus dan niat harus patuh pada serius agar keduanya mampu beriringan dan saling melengkapi.
            Kini hamba menyadarinya. Aku sudah meluangkan semua waktuku untuk berdebat dengan dunia, sementara untuk-Mu hanya kuberi waktu sisa.
            Aku telah menjadi seorang pengecut, yang tak berani menengok ke belakang sebeb aku masih takut dan aku masih saja benci menjadi aku, yang hanya bisa menjadi penonton dari kesalahan-kesalahanku yang lalu.
            Dan harapan jika aku akan sampai pada sebuah episode dimana saat itu aku telah menjadi orang lain. Orang lain yang menjadikan-Mu sebuah tujuan utama dalam metamorfasa semesta.
            Sebab hari esok yang kumau adalah ketika ruh ini telah beradapada genggaman-Mu, sementara aku berada dalam keadaan jatuh cinta pada-Mu sepenuhnya dan aku sudah tahu bahwa lebih baik mengibadakan waktuku untuk-Mu, daripada harus menyelingkuhkannya dengan dunia.

Senin, 02 September 2019

Kunci dalam membuka pintu-pintu surga


                Hijrah...

Sebenarnya setiap apa yang kita lakukan di jalan-Nya. Sudah termasuk hijrah. Terkadang kita sulit untuk menahan terpaan dahsyat dari banyaknya godaan.
                Sulin untuk bertahan dalam berbagai goncangan. Semua tentu butuh pengorbanan, perjuangan, usaha, dan doa yang beriringan dengan langkah.
                Hijrah...
                Adalah sebuah arah untuk menuju kenikmatan yang hakiki karena berpindah untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi adalah suatu yang baik dimata ALLAH. Sebaik-baiknya manusia ialah mereka yang berusaha lebih baik.
                Hijrah...
                Adalah ujian yang hebat dan hanyalah untuk orang hebat pula. ALLAH mahatahu atas segala perbuatan dan ALLAH tahu kita kuat untuk menghadapi segala  cobaan yang menerpa.
                Ingatlah ketika tidak ada lagi pundak untuk bersandar, masih ada tanah untuk bersujud. Dan Hijrah adalah salah satu kunci untuk membuka pintu-pintu surga.





“Orang-orang yang beriman dan
berhijrah serta berjihad di jalan
ALLAH dan harta dan jiwa mereka
adalah lebih tinggi derajadnya di sisi
Allah dan itulah orang-orang yang
memperoleh kemenangan.”
(QS. At-Taubah: 20)


Minggu, 01 September 2019

Tentang langkahku menuju -Mu


Ini tentang hijrah ku...
Memaafkan mereka yang pernah ada hanya untuk sekedar melukai.
Mengikhlaskan mereka yang pernah singgah hanya untuk mematahkan.
Mengharuskan berlakunya pengorbanan dalam setiaplangkah.
Meniadakan yang indah karena dunia.
Merelakan diri tersudutkan namun dekat dengan sang pencipta; ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala
          Ini tentang Hijrah ku...
Tak apalah aku melangkah untuk sibuk dengan kehidupan akhirat. Meninggalkan hal-hal yang terlalu mencintai dunia yang hanya sementara ini.
Tak apalah dunia menjadi penjara bagiku, yang jelas aku tidak kehilangan akhirat ku yang menjadi kembali yang sejatinya abadi.
Tentang langkahku menuju -Mu




"Hai orang-orang yang beiman,
bertaubatlah kepada Allah
dengan taubatan nasuhaa
(taubat dengan sebenar-benarnya)
(QS. At-Tahrim 8)