Duhai
kepada-Mu sang juru kunci hati ini
Akhirnya,
aku memilih untuk menelantarkan hati inipada sebuah titik. Di mana pada titik
itu, ia hanya punya dua pilihan: antara memlilih mencari atau sekedar untuk
menanti.
Aku bukannya
pasrah atau menyerah pada keadaan, namu hati harus memberi keputusan, sebelum
aku melangkah terlalu jau.
Duhai
pada-Mu yang Maha Membolak-balikkan hati. Sungguh berat mengambil langkah,
karena hati ini masih sama seperti dulu, terlalu polos dan tak pernah belajar
dari masa lalu. Dan aku masih saja selalu jatuh pada kesalahan yang sama. Aku
belum paham mengenai mekanisme hati dalam bekerja. Aku tidak tauh bagaimana
caranya.
Sebabyang
kutahu bahwa hijrah adalah prihal menyatukan dua pasanga kekasih, yaitu hati
dan niat. Yang kelak mereka akan merenda pada sebuah kasih.
Hanya saja
mereka harus kuat, layaknya karang yang tegar berdiri meski dalam deburan ombak
dan terpaan badai.
Hati butuh
tulus dan niat harus patuh pada serius agar keduanya mampu beriringan dan
saling melengkapi.
Kini hamba
menyadarinya. Aku sudah meluangkan semua waktuku untuk berdebat dengan dunia,
sementara untuk-Mu hanya kuberi waktu sisa.
Aku telah
menjadi seorang pengecut, yang tak berani menengok ke belakang sebeb aku masih
takut dan aku masih saja benci menjadi aku, yang hanya bisa menjadi penonton
dari kesalahan-kesalahanku yang lalu.
Dan harapan
jika aku akan sampai pada sebuah episode dimana saat itu aku telah menjadi
orang lain. Orang lain yang menjadikan-Mu sebuah tujuan utama dalam metamorfasa
semesta.
Sebab hari
esok yang kumau adalah ketika ruh ini telah beradapada genggaman-Mu, sementara
aku berada dalam keadaan jatuh cinta pada-Mu sepenuhnya dan aku sudah tahu
bahwa lebih baik mengibadakan waktuku untuk-Mu, daripada harus
menyelingkuhkannya dengan dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar